Pages

Search This Blog

Paper Teori Jean Baudrillard BUDAYA MASYARAKAT E-COMMERCE BAB III

Selasa, 08 September 2015

Contoh paper teori Jean Baudrillard Judul:
PERUBAHAN SOSIAL TERHADAP BUDAYA MASYARAKAT E-COMMERCE

BAB III
PEMBAHASAN
3.1       Analisis Pembahasan
Dalam hal ini pergeseran masyarakat pada budaya transaksi online merupakan salah satu pengaruh sinifikan karena adanya fasilitas e-commerce itu sendiri. Perniagaan, penjualan, pembelian, pemasaran, dan pendistribusian online sekarang menjadi budaya baru pada masyarakat.
Berdasarkan data dari Menkominfo, menyebutkan bahwa nilai transaksi e-commerce pada tahun 2013 mencapai angka Rp130 triliun. Ini merupakan angka yang sangat fantastis mengingat bahwa hanya sekitar 7% dari pengguna internet di Indonesia yang pernah belanja secara online, ini berdasarkan data dari McKinsey. Dibandingkan dengan China yang sudah mencapai 30%, Indonesia memang masih tertinggal jauh, tapi perlu anda ingat bahwa jumlah ini akan terus naik seiring dengan bertumbuhnya penggunaan smartphone, penetrasi internet di Indonesia, penggunaan kartu debit dan kredit, dan tingkat kepercayaan konsumen untuk berbelanja secara online. Jika kita melihat Indonesia sebagai Negara kepulauan yang sangat luas, e-commerce adalah pasar yang berpotensi tumbuh sangat besar di Indonesia.
Pada tahun 2012, suatu perusahaan e-commerce di Indonesia mencatat bahwa 41% penjualan mereka berasal dari Jakarta. Data dari lembaga riset ICD memprediksi bahwa pasar e-commerce di Indonesia akan tumbuh 42% dari tahun 2012-2015. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan negara lain seperti Malaysia (14%), Thailand (22%), dan Filipina (28%).
Menurut mehat saya, kehadiran e-commerce memberikan perubahan sosial yang signifikan terlebih dalam aspek ekonomi. Masyarakat dapat memanfaatkan situs e-commerce dengan lahan bisnis baru dan juga menstimuli masyarakat untuk lebih konsumtif karena kehadiran e-commerce memudahkan untuk jual beli ataupun mengkonsumsi barang tanpa batasa ruang dan waktu. Jika dalam transaksi pasar konvensional mengharuskan pertemuan fisik dan keterbatasan waktu namun, untuk e-commerce menghadirkan cara dalam berbelanja kapanpun dan dimanapun. Untuk itu salah satu dampak dari kehadiran e-commerce adalah budaya berbelanja sehingga menstimuli masyarakat untuk lebih konsumtif karena kemudahan akses dalam berbelanja. Berdasarkan informasi dari Heppy Tranggono, Ketua Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) di salah satu media Solo, CyberNews. Bahwa Masyarakat Indonesia dinilai sangat konsumtif. Terbukti bahwa saat ini, Indonesia menduduki peringkat ke dua sebagai negara paling konsumtif di dunia. Sementara di peringkat pertama adalah Singapura. Ironisnya, banyak orang Indonesia yang menghabiskan uangnya dengan berbelanja di Singapura. Hal itu diungkapkan Heppy Tranggono, Ketua Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) saat berbicara dalam sosialisasi "Gerakan Beli Indonesia" dan rencana "Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia" di Hotel Riyadi Palace, Senin (2/5) malam lalu.
"Indonesia negara konsumtif, juga bisa dilihat dari nilai transaksi kartu kredit yang mencapai 250 triliun setahun. Padahal anggaran negara kita hanya 1.200 triliun. Tapi ini fakta," tandasnya. Negara ini juga kalah nilai ekspornya dibanding Singapura. Pada 2009, nilai ekspor Indonesia 11,5 miliar dollar Amerika. Tahun 2010, naik menjadi 14,5 miliar dolar Amerika.Tapi itu tidak ada separonya dibanding nilai ekspor Singapura. Indonesia tidak bisa bersaing dengan Singapura yang hanya negara kecil," tuturnya prihatin.
Menurut Heppy penyebabnya adalah mentalitas bangsa. Karena masyarakat Indonesia yang menjadi pengusaha hanya segelintir dari sekian juta rakyat. Persentasenya hanya 0,18 persen. "Sementara di Singapura, jumlahnya enam persen. Bicara entrepreneurship, di Indonesia masih rendah. Perekonomian Indonesia terpuruk, juga disebabkan negara ini tidak berdaulat pada kehidupan perdagangannya sendiri. Pasar dalam negeri dibanjiri produk-produk asing dan masyarakat lebih tertarik membeli produk luar negeri dibanding produk buatan dalam negeri.
Dalam hal ini saya menilai bahwa kehadiran e-commerce, mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap suatu barang yang di konsumsi. Pembelian suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, melainkan karena keinginan , dimana use value (nilai guna) berubah menjadi exchange value (nilai tukar). Orang lebih mau membeli televisi dari pada buku, atau membeli produk yang tidak terlalu bermanfaat karena adanya potongan harga. Mereka lebih memilih membeli berbagai peralatan rumah tangga dari pada mendapatkan pengetahuan pendidikan. Beberapa orang dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama dikota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka membeli produk tidak lagi karena memang membutuhkan, tetapi dilakukan dengan alasan-alasan lain seperti mengikuti mode yang sedang beredar, hanya ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial dll.
Dengan perkembangan teknologi informasi ini jaringan komunikasi pada dunia virtual kian memfasilitasi dengan adanya e-commerce ini masyarakat bertransaksi secara online tidak lagi harus secara konvensional. Menurut Adji Gunawan, Associate Partner dan Technology Competency Group Head Andersen Consulting, secara umum ada tiga tahapan menuju e-commerce, yakni: presence (kehadiran), interaktivitas dan transaksi.
Posisi komunikasi pada kajian ini adalah bahwa ada tiga tahapan dalam menghadirkan budaya pada transaksi e-commerce. Pertama, presence atau kehadiran merupakan asprek krusial ketika berlangsungnya transaksi secara e-commerce yakni menghadirkan penjual dan pembeli dalam dunia virtual atau belanja secara online meskipun terbatas pada pertemuan fisik. Kedua, interkativitas. Artinya aktifitas yang terhubung dalam beberapa tahapan. Berawal dalam pemesanan barang memanfaatkan situs jearing sosial lalu mentransfer dana sesuai pemesanan dan penjual mengirimkan barang yang dipesan lalu pembeli atau pemesan mengkonfirmasi kembali ketika barang sudah sampai di tangan. Tentunya hal itu, tredapat beberapa proses komunikasi ketika melakukan transaksi secara online. Ketiga transaksi,  dalam berlangsungnya proses komunikasi. 

3.2 Analisis Kasus dalam pendekatan Baudrillard
 
Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan “mitos” yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini menjadi faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan. Segala yang dapat menarik minat manusia ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyperreality dimana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.

Keadaan dari hiperrealitas ini membuat masyarakat modern ini menjadi berlebihan dalam pola mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas esensinya. Kebanyakan dari masyarakat ini mengkonsumsi bukan karena kebutuhan ekonominya melainkan karena pengaruh model-model dari simulasi yang menyebabkan gaya hidup masyarakat menjadi berbeda.

Media membuat masyarakat jauh dari kenyataan. Masyarakat secara tidak sadar terpengaruh oleh simulasi dan tanda (simulacra) yang ada di tengah kehidupan kita seperi pada kehadiran e-commerce telah menggeser pada era digital sehingga menstimuli khalayak untuk lebih konsumtif. Konsumsi yang digunakan bukan lagi pada tahapan use value tapi bergeser pada exchange value.

Dalam hal ini menurut analisis saya fenomena yang terjadi melihat pada pendekatan konsep Jean Baudrillard masyarakat lebih digiring pada simulasi-simulasi yang dibentuk oleh media dalam hal ini e-commerce sebagai media alternatif untuk kemudian konsumsilah yang menjadi inti ekonomi. Bukan pada produksi.

Manusia lebih memilih untuk mengkonsumsi tanda daripada melihat kegunaan objek itu sendiri. Contoh: ada faktanya sebagian orang, ketika kita berbelanja online, maka keinginan memiliki dan brand menjadi prioritas. Karena ketika dia sudah memiliki, maka dia mengkonsumsi bukan secara verbal atau fungsi tapi secara simbol. Simbol yang secara implisit eksotis, kharismatik, modern, dll




Perilaku konsumtif sendiri didefinisikan oleh Solomon (2002:453) sebagai sebuah studi tentang proses yang menghubungkan individu atau grup yang terpilih terhadap pembelian, penggunaan produk, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat.

Dalam hal ini dimesi komunikasi yang terdapat pada kehadiran e-commerce ini sendiri telah mengubah membawa pada budaya masyarakat yang dapat bertransaksi secara online. Menurut Adji Gunawan, secara umum ada tiga tahapan menuju e-commerce, yakni: presence (kehadiran), interaktivitas dan transaksi.


Sebuah gejala yang tengah mewabah dalam situs kultural mayarakat dewasa ini adalah fenomena kelahiran tren-tren baru. Masyarakat terobsesi untukmenghadirkan tren-tren revolusioner dalam menanggapi gejolak perubahan jaman. Fenomena ini hakikatnya merupakan implementasi dari dinamika kebudayaan bersifat terbuka untuk mengalami perubahan.


Lanjut ke BAB IV


http://www.acommerce.co.id/tag/ecommerce/ diakses pada tanggal 22 Mei 2015
http://startupbisnis.com/data-statistik-mengenai-pertumbuhan-pangsa-pasar-e-commerce-di-indonesia-saat-ini/ diakses pada tanggal 20 Mei 2015
Lechte, John, 50 Filusuf Kontemporer, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001), hal. 24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Most Reading

Pengikut

Katagori

Arsip Blog